Menyelami Rezeki di Ketinggian 37.000 Kaki
Menyelami Rezeki di Ketinggian 37.000 Kaki Pagi ini saya berada di penerbangan paling awal dari Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru menuju Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Pukul 06:10. Saya duduk di kursi 8A, di sisi jendela. Di bawah sana, awan bergerak pelan seperti lautan putih yang tak bertepi. Matahari pagi menyelinap di celahnya, menghadirkan cahaya yang hangat dan tenang. Penerbangan terasa lembut, tanpa banyak guncangan. Namun entah mengapa, mata ini enggan terpejam. Mungkin karena di waktu seperti ini, biasanya hari sudah dimulai dengan kesibukan. Akhirnya, pikiran saya melayang jauh ke akhir Desember 2025. Hari-hari awal saya menjadi seorang ayah, dan istri saya menjadi seorang ibu. Kami tinggal berdampingan dengan sebuah keluarga kecil. Sepasang suami istri dengan seorang putri yang masih TK, serta seorang nenek yang juga tinggal bersama mereka. Setiap pagi, sekitar pukul 7, sang nenek datang. Kadang mengetuk pagar, kadang menelepon, hanya untuk memberi tahu bahwa be...
