Menyelami Rezeki di Ketinggian 37.000 Kaki
Menyelami Rezeki di Ketinggian 37.000 Kaki
Pagi ini saya berada di penerbangan paling awal dari Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru menuju Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Pukul 06:10.
Saya duduk di kursi 8A, di sisi jendela.
Di bawah sana, awan bergerak pelan seperti lautan
putih yang tak bertepi. Matahari pagi menyelinap di
celahnya, menghadirkan cahaya yang hangat dan
tenang. Penerbangan terasa lembut, tanpa banyak
guncangan.
Namun entah mengapa, mata ini enggan terpejam.
Mungkin karena di waktu seperti ini, biasanya hari
sudah dimulai dengan kesibukan. Akhirnya, pikiran saya
melayang jauh ke akhir Desember 2025. Hari-hari awal
saya menjadi seorang ayah, dan istri saya menjadi
seorang ibu.
Kami tinggal berdampingan dengan sebuah keluarga
kecil. Sepasang suami istri dengan seorang putri yang
masih TK, serta seorang nenek yang juga tinggal
bersama mereka.
Setiap pagi, sekitar pukul 7, sang nenek datang. Kadang
mengetuk pagar, kadang menelepon, hanya untuk
memberi tahu bahwa beliau sudah menunggu di depan.
Saya pun keluar rumah.
Di tangannya selalu ada semangkuk sayur beningkadang bayam, kadang katuk-dengan potongan
wortel dan taburan bawang goreng di atasnya. Hangat.
Sederhana. Namun aromanya seperti membawa
ketenangan yang sulit dijelaskan.
"Ini untuk ibunya Umar, baru matang," ucapnya lembut.
Bukan sehari. Bukan dua hari. Tetapi empat pagi
berturut-turut. Setiap hari beliau datang dengan hal
yang sama: kehangatan yang tidak dibungkus mewah,
tapi sampai ke hati.
Saya sempat berpikir, jika pukul 7 pagi sudah tersaji,
maka sejak pukul berapa beliau mulai menyiapkannya?
Barangkali sejak fajar masih sunyi, ketika dunia belum
benar-benar terbangun.
Kebaikan kecil itu tidak pernah benar-benar kecil. la
menetap, diam-diam menghangatkan ingatan sampai
hari ini.
Beberapa kali juga Umar menerima kiriman kado. Tanpa
nama pengirim uang tercantum. Tanpa pesan yang
tertera. Datang begitu saja, seperti rezeki yang turun
tanpa banyak tanya.
Di situ saya belajar pelan-pelan... bahwa setiap orang
membawa rezekinya masing-masing. Orang tua
hanyalah perantara, sementara pemberi sejatinya selalu
punya cara-Nya sendiri.
Saya yang lahir dan besar di Aceh, pernah belajar
di Yogyakarta, lalu bekerja di Kalimantan—tidak pernah
menyangka bahwa di tanah ini, bahkan di tengah
lingkungan pertambangan, ada rezeki yang disiapkan
untuk Umar.
Ternyata rezeki tidak hanya soal jarak dan tempat. la
seperti angin-datang dari arah yang tidak kita duga,
tapi selalu sampai pada waktu yang tepat.
Di ketinggian 37.000 kaki ini, saya kembali mengingat
satu kalimat dari Ibnu Qayyim Al-Jauzi:
"Jika kamu memikirkan bagaimana Allah mengatur
rezekimu, niscaya hatimu akan luluh karenanya".

Komentar
Posting Komentar