Kelahiran Cahaya Mata
Catatan kecil untuk Umar Hanif Hawari
Akhir bulan Desember 2025. Bulan yang kami—saya dan istri—tunggu dengan sabar. Dengan doa yang diam-diam kami panjatkan setiap malam, dan harapan yang kami simpan rapat di dalam hati
Menurut Dokter Spesialis Kandungan tempat kami rutin berkonsultasi, jadwal kelahirannya berkisar di tanggal 22 sampai 28 Desember. Memasuki trimester ketiga, istri saya disarankan untuk melakukan yoga dan olahraga ringan seperti berjalan kaki agar proses persalinan bisa berjalan normal.Sejak saat itu, hampir setiap hari kami berjalan santai dilapangan dekat rumah. Tiga puluh menit yang sederhana, tapi terasa sangat berarti. Kadang pagi, kadang sore, tergantung cuaca. Jika langit sedang ramah, kami bahkan mengulanginya lagi di sore hari, di lapangan yang berbeda, hanya untuk mengganti suasana.Kami juga sempat berjalan di CFD setiap hari Minggu. Ditengah keramaian orang-orang yang berolahraga, kami berjalan pelan, membawa harapan kecil yang sebentar lagi akan hadir ke dunia.Dirumah, sambil menonton televisi, saya membantu istri menjaga keseimbangannya ketika berlatih dengan gymball. Semua hal kecil itu kami lakukan dengan satu tujuan: agar ketika “gelombang cinta” itu datang, kami sudah siap menyambutnya.Hari-hari menjelang kelahiran terasa berbeda. Ada rasa menunggu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Baju-baju kecil sudah kami siapkan. Kain-kain mungil sudah dilipat rapi. Pakaian salin dan berkas-berkas rumah sakit sudah masuk dalam satu koper dan satu ransel.Semua seolah sedang bersiap menyambut seseorang yang belum pernah kami temui, tapi sudah kami cintai sepenuh hati. Tanggal 27 Desember kami kembali menemui dokter. Konsultasi lagi, menunggu kepastian.Dokter menjelaskan bahwa usia kandungan sudah cukup matang. Jika ingin menunggu mulas alami, masih ada waktu hingga tanggal 4 Januari 2026. Namun bayi tentu akan terus bertambah besar.Di ruangan itu, keputusan harus diambil. Saya menandatangani dua lembar surat persetujuan tindakan. Induksi akan dilakukan. Jika pembukaan tidak berjalan baik, maka operasi SC menjadi kemungkinan berikutnya.Disanalah, untuk pertama kalinya saya benar-benar merasakan satu hal: menjadi seorang ayah juga berarti berani mengambil keputusan untuk keluarga.Kami sepakat. Tanggal 29 Desember 2025. Pagi itu kami bersiap dengan tenang. Saya rapi. Istri juga. Kami keluar rumah dan menuju rumah sakit. Bismillah.Sekitar pukul 06.50 kami tiba di rumah sakit. Setelah proses pendaftaran dan pemeriksaan awal, kami diantar ke ruang bersalin di lantai lima. Ruangan itu sederhana. Sekitar tiga kali empat meter dengan kamar mandi kecil di dalamnya. Di situlah kami menunggu.Detak jantung bayi dipantau secara berkala. Setiap setengah jam hingga satu jam.Pukul 10 pagi, cairan induksi mulai dimasukkan melalui infus. Sekitar satu jam kemudian, istri saya mulai merasakan mulas yang datang perlahan. Pukul 11.15 bukaan dua. Pukul 12.30 bukaan empat.Di antara jeda-jeda itu, dzikir mengalir pelan dari bibir kami: Allah… Allah…Pukul 14.10 bukaan delapan. Beberapa menit kemudian, bukaan sepuluh. Tiba-tiba ruangan menjadi ramai. Bidan senior masuk, alat-alat persalinan disiapkan, dan dokter kandungan dipanggil.Saya tetap berada di sisi istri. Tangan saya menggenggam tangannya, membisikkan dzikir pelan. Dokter memberi aba-aba. Istri saya mengejan, mengingat teknik pernapasan yang dipelajari saat yoga. Tarik… hembus…Lalu pada pukul 14.32… tangisan itu akhirnya terdengar. Tangisan pertama yang mengisi ruangan kecil itu. Tangisan yang selama ini hanya kami bayangkan.Saya diberi kesempatan memotong tali pusarnya. Di saat yang sama, suara 'Alhamdulillah' bersahutan di ruangan itu. Saya tidak tahu mana yang lebih kuat: gema tangisan bayi, atau getaran syukur di dalam dada.Tepat pukul 14.32 itu saya menjadi ayah. Istri saya menjadi ibu. Dan orang tua kami berdua menjadi nenek dan kakek.


Komentar
Posting Komentar